SEDEKAH BUMI

Malam semakin larut, namun aku masih terjaga menekuri dan mencoba mencerna tiap baris kata yang ada dalam buku pemberian bapak kemarin malam.
“Nduk , ini Bapak punya buku. Bacalah!”
Belum sempat bertanya pada bapak, beliau langsung pergi setelah memindah tangankan buku itu padaku.
Dan malam ini buku itu sukses membuat aku tidak bisa memejamkan mata. Untuk ukuran anak SMP sepertiku cukup sulit memahami bahasa yang ilmiah dan njlimet yang ada pada tiap baris ditiap kata pada buku itu.
“Akh! Padahal bapak hanya lulusan SD, kenapa beliau paham ya baca buku kayak gini??”
Pekikku dalam hati.
I’TIQAD AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH, judul yang tertera pada sampul buku yang ku baca. Dari sekian halaman yang aku baca, aku berhasil mengetahui makna AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH, yaitu para penganut ajaran Nabi Muhammad dan Sahabat – sahabat Nabi. Dan Ahlussunnah wal jama’ah adalah salah satu dari 73 golongan. Bukan isi dari buku ini yang kupikirkan, tapi aku malah berpikir apa tujuan bapak menyuruhku membaca buku yang sama sekali aku sendiri tak memahaminya. Mending aku baca komik, majalah atau novel. Tapi entah dapat kekuatan darimana, aku kembali membaca baris perbaris hingga akhirnya ku terlelap.

###

“Wah! Semalam begadang toh Nduk?? Dibangunin berkali – kali sama ibumu kok nggak mempan. BANGUN!!”
Aku mengerjapkan mata, merasakan percikan air diwajahku.
“Akh! Bapak pakai jurus pamungkas.”
Aku mulai ngedumel.
“Ayo cepetan bangun. Mataharinya sudah mulai naik tuh. Mau sholat subuh apa subha (Subuh wa dluha) ??”
Tanpa menggubris kultumnya bapak aku bersa’I menuju padasan . Secepat kilat kukerjakan 2 raka’at. Mengejar waktu.

###

“Nduk, hari ini bantuin ibu masak ya?”
Aku yang sedang membersihkan halaman rumah kaget mendengar perintah ibu barusan. Karena jadwal weekend ku hari ini adalah pergi ke laut bareng teman – teman cari remis .
“Tapi bu? Nanti temen – temen ngajak cari remis.”
Sanggahku pada ibu.
“Ealah Nduk, hari ini kan Sedekah Bumi nanti malam ada pagelaran wayang kulit. Banyak makanan jadi minggu depan saja cari kerangnya.”
“Sedekah Bumi??”
“Iya, mumpung masih pagi habis bersih – bersih langsung bantuin ibu di dapur, ibu mau beli bahan – bahannya dulu.”
Tidak bisa membantah karena ibu langsung saja pergi tanpa memikirkan perasaanku. Aku melanjutkan tugasku, dan belum lama ibu pergi, temanku yang mengajak pergi ke laut datang.
“Ni, rencana kita ditunda minggu depan ya? Aku disuruh bantuin ibu masak.”
Kata irma to the point.
“Lho! Pas banget toh Ir, barusan ibu juga menyuruhku menunda cari remisnya minggu depan. Alasannya ibu sama kayak alasan kamu.”
“Ya iyalah Ni, lha kita nggak tahu kalau hari ini ada Sedekah Bumi.”
“Eh! Ir tapi ngomong – ngomong sebenarnya Sedekah Bumi itu menurut ajarannya siapa ya? Apa zaman Nabi dulu juga ada Sedekah Bumi?”
“Ni, yang aku tahu Sedekah Bumi itu acara pagelaran wayang, kondangan, makan – makan dan ramainya desa kita. Waktu zaman Nabi kan aku belum lahir. Jadi aku nggak tahu. Hehehe…”
“Aku serius Ir!!”
Nadaku menekan, merasa Irma meremehkan pertanyaanku.
“Ojo ngetril ngunu ngomongmu Ni, aku juga serius nggak tahu. Coba kamu tanya bapak atau ibumu mungkin beliau tahu. Udah ya, Aku pulang dulu?”
Kata Irma sekalian pamit, membuatku memikirkan pertanyaanku yang tak terjawab olehnya.

###

Aku mulai membersihkan dan memotong sayuran yang dibeli ibu sesuai intruksi dari beliau. Ibu yang membuat bumbunya, terakhir aku yang memasaknya. Hal yang paling kusukai.
“Nduk, nanti setelah selesai semua tolong ambilkan kue pesanan ibu ya?”
“Dimana Bu? Kenapa Ibu nggak buat sendiri? Biasanya Ibu kan paling suka buat kue?”
“Kata bapak, tetangga sebelah ada yang menerima pesanan kue, jadi kenapa mesti repot – repot. Itung – itung membantu keuangan mereka.”
Kata ibu sambil tersenyum simpul. Dan aku tak maksud dengan alasan ibu tersebut.

###

Tepat pukul 13.00 berkatan telah siap. Segera kuambil kue di tetangga sebelah yang hanya berjarak 6 rumah disamping rumahku. Sesampainya dirumah segera ku tata kue tersebut di berkatan yang berupa tumpeng nasi kuning dan hiasan sambal, lauk dan kue yang melingkar.
“Sempurna!”
Kataku bangga melihat hasil kerjaku dan dengan ibu tentunya. Ku lihat ibu membersihkan peralatan yang tadi dipakai untuk masak. Aku belum sholat dzuhur, prekdiksiku tak cukup waktu untuk sholat bila aku membantu ibu dulu.
“ Ndang adus Nduk! Kamu belum sholat biar Ibu saja yang membersihkan semua. Ibu tadi kan sudah sholat. ”
Kata ibu seolah bisa membaca apa yang ada dipikiranku.
“Makasih Bu…”
Jawabku singkat. Kuambil handuk yang ada dikamarku dan pergi mandi. Usai mandi sekalian wudlunya kumasuk di tempat sholat keluarga dan kudapati bapak sedang duduk dengan khusyuk. Entah ritual apa yang dilakukan bapak. Aku tak mempedulikannya. Kukerjakan sholat dzuhur. Usai sholat bapak melarangku beranjak. Bapak ingin ngobrol.
“Wah! Kesempatan buat nanya ke bapak nich!”
Pikiranku teringat akan pertanyaan yang kulontarkan pada temanku tadi pagi. Sebenarnya aku tak pernah berani memulai pembicaraan dengan bapak, karena bapak pendiam tidak seperti ibu yang selalu mengkritik apa yang kupakai dan yang kulakukan. Bapak lebih suka bicara baik – baik dan memilih waktu dan tempat yang pas. Perbedaan yang kentara antara ibu dan bapak. Namun perbedaan inilah yang membuat mereka bisa saling melengkapi.
“Nduk, Bapak belum ngajak bicara kok sudah ngelamun? Kamu ini kebiasaan.”
Kata bapak membuyarkan apa yang baru saja aku pikirkan. Aku tersenyum simpul. Ternyata bapak tahu kebiasaanku.
“ Bagaimana dengan buku yang bapak kasih kemaren Nduk? ”
Aku terdiam sejenak, ternyata hanya hal sepele yang bapak tanyakan. Padahal aku sudah mempersiapkan segenap jiwa dan raga kalau saja dapat ceramah gratis karena suatu kesalahan yang aku lakukan.
“Sulit memahaminya Pak, bahasanya njlimet.”
Jawabku singkat dan berharap bapak bisa tahu bahwa aku sama sekali sudah tak berminat membacanya lagi.
“ Bapak ngerti itu Nduk, tapi bapak yakin suatu saat nanti kamu akan mengerti semua isi buku tersebut. Simpanlah buku itu!”
“ Nggeh Pak”
Jawabku senang, karena tidak ada paksaan untuk membaca lagi buku itu.
“ Eh iya Pak, aku pingin tahu sejarahnya Sedekah Bumi, apakah zaman Nabi dulu ada acara itu Pak?”
Aku memulai apa yang cudah kurencanakan tadi.
“ Hmm.. Ternyata perkiraanku salah Nduk, kamu sudah mampu sedikit menyerap buku itu lewat pertanyaanmu ini. Bapak akan menceritakannya, Sedekah Bumi di desa kita ini adalah tradisi atau budaya dari orang – orang dulu sebelum para Waliyullah memasuki daerah Tuban. Selain itu ada Tayuban yang juga termasuk tradisi budaya dari daerah kita. Dulu Sedekah Bumi itu adalah pesta desa. Makan – makan dan senang – senang itulah tujuan utamanya., Dengan adanya Towak, minuman memabukkan yang terkenal didaerah Tuban, dan di iringi gending Tayuban menjadikan pesta tersebut semakin hidup hingga pagi. Seiring adanya dakwah yang dilakukan oleh Waliyullah Sunan Bonang. Hal – hal yang tidak bermanfaat dirubahnya tetapi tidak meninggalkan tradisi lama misalnya, pesta peringatan 3,7, 40, 100, dan 1000 harinya orang meninggal yang di ubah menjadi acara Tahlilan . Sedekah Bumi juga salah satunya. Tapi ya itulah bagi mereka yang belum betul – betul memahami hukum Islam, mereka akan menganut tradisi lama. Tapi walaupun begitu, mereka wajib ikut kondangan yang dilakukan di balai desa dan pembacaan Tahlil yang dipimpin oleh Mbah Modin . Kalau Bapak sendiri mengartikan Sedekah Bumi merupakan ungkapan rasa syukur kita kepada Allah yang telah melimpahkan semua yang berasal dari bumi ini, hasil sawah, ladang, hutan, pun juga laut untuk kita ini dengan cara Tahlil dan Kondangan.”
Aku cukup mengerti dengan semua penjelasan yang bapak berikan. Aku terdiam dan berpikir, ternyata kita juga hidup dari sejarah orang – orang terdahulu. Sangat tidak menghargai kalau kita melupakan sejarah, tradisi, dan budaya yang telah ada.
“ Kok melamun lagi Nduk? Paham tidak dengan apa yang telah Bapak utarakan tadi?”
“Hehehe.. Nggeh Pak, paham kok.. terimakasih ya Pak?”
Jawabku sambil terkekeh karena kaget dengan pertanyaan bapak tadi. Tepat sekali perbincanganku dengan bapak selesai, adzan berkumandang. Usai adzan kita jama’ah sholat ashar. Rasa syukurku kepadaNYA sungguh tak terkira.

###

Dan malamnya di desaku benar – benar ramai. Aku diajak bapak menyaksikan pagelaran wayang. Lakon Ramayana yang dibawakan oleh Pak Dalang sungguh membuatku terpukau hingga aku tak mengantuk sedikitpun. Karena besok tanggal merah lagi, aku tidak khawatir dan bahkan berencana tidur sebagai ganti porsi tidurku malam ini.

###


Cerpen ini dikirim dalam lomba Humaniora Islamic Festival Dengan tema: “Menyelami Budaya, Mendzikirkan Cakrawala” Sebuah festival yang akan menampilkan keindahan Islam dari sudut pandang budaya dan seni. Acara ini diadakan oleh Lembaga Dakwah Fakultas Forum Amal dan Studi Islam (FORMASI) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).

0 komentar: